Showing posts with label angkringan. Show all posts
Showing posts with label angkringan. Show all posts

Thursday, February 18, 2016

Wisata Terapi : mbah Yatim, Biksu Dalong dan Longevitology

www.jogja-jajan.blogspot.co.id-tairo-skoliosis-chiropractice
Kali ini saya ingin berbagi cerita tentang wisata yang lain daripada yang lain. Wisata ini sudah saya jalani selama beberapa bulan. Sebenarnya bukanlah sebuah wisata yang menyenangkan, kadang penuh derai air mata dan bahkan cengiran malu karena ditonton banyak orang.

Ya, wisata ini bahkan sudah saya mulai jauh-jauh hari sejak saya belum tahu pasti menderita sakit apa. Kala itu sudah beberapa bulan kaki saya nyeri mulai dari pantat sampai pergelangan kaki kiri. Rasa kesemutan yang nonstop sejak membuka mata dipagi hari hingga jatuh tertidur di malam hari. Ditambah rasa linu di sepanjang tulang tungkai kiri. Saat siang, linu ini semakin menghebat yang berakhir dengan meninggalkan kantor terpincang-pincang bahkan seringkali engklek dengan sebelah kaki. Waktu itu perasaan saya sungguh sangat tidak nyaman. Seringkali saking sebelnya, tangga yang tidak berdosapun ikut ketiban omelan. Maklum, baik dirumah maupun di kantor saya harus naik turun tangga untuk mencapai ruangan. Akhirnya saya ke dokter. Diagnosa awal kemungkinan gejala rematik. Lalu diberi obat, dengan pesan jika tidak me
mpan sebaiknya berkunjung ke dokter saraf.
www.jogja-jajan.blogspot.co.id-tairo-skoliosis-chiropractice

Hiks.. kok dokter saraf?! Image dokter saraf di kepala saya waktu itu adalah kombinasi antara dokter saraf jiwa dengan dokter saraf rujukan pasien stroke. Ga pernah terbayang di benak saya untuk berurusan dengan dokter saraf. Tapi saat obat dokter sudah habis dan nyerinya tidak berkurang, mau tidak mau sayapun mulai mempertimbangkan opsi dokter syaraf. Kebetulan saat itu libur lebaran Hari Raya Idul Fitri 2015. Pas mudik, ibu yang prihatin melihat cara berjalan saya menyarankan untuk mendatangi orang pintar. Beliau ini sangat terkenal di dusun saya, pasiennya beraneka macam mulai dari penderita tumor hingga sakit kepala. Kadang-kadang beliau bahkan melakukan road show di pedukuhan-pedukuhan kampung untuk menyembuhkan orang. Namanya mbah Yatim. Ibu saya yang menderita saraf kejepit bilang kalau ibu sudah membuktikan kehebatan metode pengobatan simbah ini. Paklik Setyo yang stroke juga membaik setelah ditangani simbah. Tamu-tamu yang datang berkunjung ke rumah bapak saya pas open house lebaran juga banyak yang bercerita sembuh setelah patah tulang dlsb.

Okelah.. daripada saya tersiksa dengan sakitnya plus punya 5 hari nganggur di rumah ibu, akhirnya saya berangkat kesana diantarkan suami dan ibu saya. Ini adalah wisata pertama saya, Wisata Terapi Refleksi. Rumah simbah ini lumayan jauh, terletak di dekat stasiun kereta api Kutoarjo. Dari jalan raya Kutoarjo, belok ke selatan. Ada pertigaan (Jalan Sawunggalih), lurus saja keselatan karena jika ke kanan nanti malah masuk ke stasiun kereta. Kurang lebih 1 kilometer akan menemukan jembatan kecil dengan besi-besi bercat biru. Sekitar 100 meter dari jembatan ada gapura, belok kanan menyusuri tepian sungai. Rumahnya sederhana, cenderung kumuh dengan gambar Bung Karno mendominasi interior ruang tamu yang merangkap ruang praktek. Di pojok ruangan dekat pintu masuk ada dipan kayu berkasur kapuk tipis, dengan bantal dan sprei yang aroma dan bentuknya seolah mengatakan kalau belum dicuci berbulan-bulan. Ternyata setiap pasien harus berbaring di kasur bau itu. Untung ibu saya sudah sedia kain pantai yang langsung digelar menjadi alas tidur. Terbayang dibenak saya betapa pemakaian masker akan membantu mengurangi siksa dunia ini. Tapi demi kesembuhan saya rela menahan derita dari aroma tak sedap tempat tidur milik simbah.

Ternyata derita itu belum seberapa. Aniaya yang sesungguhnya baru akan dimulai. Setelah hening sejenak mengucap doa, simbah ini duduk dibangku kecil menghadap ke telapak kaki saya. Sambil mulutnya terus bercerita tentang penyakit para pasien yang berhasil disembuhkannya, tangannya mengambil semacam alat kecil terbuat dari kayu yang dibentuk bulat dengan ukuran panjang sejengkal. Alat itu dipukul-pukulkan ke jempol kaki saya, kadang ditusukkan ke telapak kaki, kadang dipakai menyisiri sisi luar telapak kaki. Jika telapak kaki kanan saya yang mendapat perlakuan itu tidak akan terasa sakit tapi beda dengan telapak kaki kiri saya. Kadang ujung jari kaki saya ditusuk dengan kuku jempol tangan simbah. Aduh sakitnya sungguh luar biasa, sekarang saja saya masih merinding saat menulis cerita ini. Dan aniaya itu berlangsung selama kurang lebih 20-30 menit, berturut-turut selama 3 hari. Tidak gratis tentu saja. Obat herbal racikan simbah harus ditebus dengan harga 300 ribu dan setiap kunjungan pijat refleksi ibu saya menganjurkan ngamplopi minimal 30 ribu.

Apakah saya sembuh? Tidak. Apakah menjadi lebih ringan penderitaannya? Tidak juga, masih tetap kesemutan dan nyeri di penghujung hari. Lalu apa yang saya dapat dari wisata terapi pertama ini? Pelajaran bahwa nyeri yang saya derita ternyata masih dibawah ambang batas toleransi saya. Simbah membuka mata saya bahwa ternyata saya masih mampu menahan sakit luarbiasa deraan pijat refleksi yang dilakukannya. Artinya saya pasti mampu menahan nyeri harian ini.

Oke, beberapa hari setelah usai libur lebaran saya memutuskan berkunjung ke spesialis syaraf usai jam kerja. Setelah pemeriksaan, dokter meminta saya untuk menjalani MRI (Magnetic Resonance Imaging). Berhubung radiologi sudah tutup selepas jam 7 malam, dokter menyarankan untuk memanfaatkan BPJS yang saya miliki. Ini adalah wisata terapi kedua yang saya jalani, Wisata Terapi Bethesda. Memanfaatkan BPJS sebenarnya cukup membantu dari sisi finansial. Biaya MRI yang mencapai 1 jutaan benar-benar free of charge. Banyak gratisannya, konsultasi dokter, obat (generik), dan sebenarnya juga mendapat fisioterapi 6x gratis tapi tidak saya pergunakan karena hanya dilayani di jam kerja. Yang kurang saya suka cuma 1, wasting time bener deh. Antrian nomor urut sudah dimulai sejak sebelum jam 6 pagi, jadi saat saya datang jam 9 nomor antriannya sudah ratusan. Usai menunggu dipanggil oleh petugas BPJS, saya masih harus mengantri di poli yang ditunjuk, 1 hari hanya melayani 1 poli. Artinya saya harus menghabiskan 1 hari untuk MRI dan 1 hari lagi untuk konsultasi hasil MRI (Magnetic Resonance Imaging). Saya dimasukkan ke dalam tabung dan tidak boleh bergerak selama lebih dari setengah jam. Serem rasanya! Berbaring dalam tabung yang atapnya cuma sejengkal dari hidung membuat saya terbayang pada liang lahat. Ih ngeri banget.

www.jogja-jajan.blogspot.co.id-tairo-skoliosis-chiropractice

Hasil MRI RS Bethesda menunjukkan bahwasanya saya mengidap penyakit saraf kejepit. Nama kerennya HNP (Hernia Nucleus Pulposus), yang gampangnya adalah suatu kondisi dimana bantalan tulang belakang saya (Lumbal ke-4 & ke-5) melesat dari posisi yang seharusnya, menembus jaringan otot yang menahannya (hernia) dan menekan saraf yang berhubungan dengan tungkai kiri saya. HNP ini mempunyai ciri yang sangat khas. Kesemutan nonstop dan nyeri hanya di salah satu kaki mulai dari pantat hingga telapak kaki. Andai saya tahu dari awal.

Penjelasan medisnya begini : Tulang belakang (columna vertebra) terdiri dari sederet ruas tulang (vertebra) yaitu tulang leher (cervical), tulang punggung (thoracal), tulang pinggang (lumbal), tulang bokong (sacral) dan tulang ekor (coccygeus). Tulang-tulang tersebut (kecuali tulang sacral), dipisahkan oleh cakram (diskus). Didalam cakram terdapat bantalan yang lentur (nucleus pulposus). Nucleus pulposus diselubungi oleh cincin serat jaringan yang kuat yang disebut annulus fibrosus. Cakram berfungsi sebagai penyerap goncangan (shock absorber) dan berperan penting dalam kelenturan pergerakan tulang belakang, antara lain untuk memutar, menunduk, menengadah dan sebagainya. Didalam tulang belakang terdapat saluran yang berisi sumsum tulang belakang (medulla spinalis) yaitu sistem saraf yang menghubungan otak dengan organ-organ tubuh dibawah. Sumsum tulang belakang terletak di belakang cakram. Bila cakram melemah, ada risiko terjadi robekan pada anulus fibrosus, akibatnya bantalan/nucleus pulposus dapat menonjol sehingga berpotensi menekan/menjepit sumsum tulang belakang dan/atau saraf di sekitarnya. Keadaan ini yang dikenal sebagai HNP

Saat kontrol minggu berikutnya saya berganti dokter senior dan tanpa memakai fasilitas BPJS. Kali ini saya harus membayar lebih dari 500 ribu dan wajib fisioterapi minimal 12x @ 50 ribu. Duh, betapa mahalnya harga kesehatan. Obatpun hanya diberi 2 macam, yaitu anti nyeri dan anti radang untuk dikonsumsi selama 10 hari. Obat anti nyeri sudah jelas tidak baik bagi ginjal saya jika dikonsumsi berkepanjangan. Sedangkan obat anti radang diberikan karena otot kaki saya melemah sehingga pergelangan kaki saya bengkak berbulan-bulan.

Akhirnya supaya tidak tergantung pada obat, saya memutuskan menjalani Fisioterapi dengan durasi selama 45 menit, berupa traksi dan diatermi. Punggung saya dipanaskan dengan alat selama 15 menit (diatermi). Berikutnya dada hingga pinggang saya dibalut dengan korset dengan posisi telentang. Korset tersebut terikat mati memakai tali dengan kepala ranjang rumah sakit. Bagian bawah korset, tepatnya di tulang ekor saya, dikaitkan dengan sling yang terhubung ke mesin beban. Beban diatur sebesar 22 kilogram, kemudian mesin dinyalakan dan punggung saya ditarik ke arah kaki selama 30 menit nonstop. Itu namanya traksi.

Wisata fisioterapi ini sudah saya jalani hingga 12 kali dan selalu di jam 17.00 s/d 18.30. Pernah saya mencoba datang dengan memanfaatkan jam istirahat kantor, eh rupanya petugas fisioterapi tidak berdinas pada jam istirahat. Pikir saya siapa tahu karena rumah sakit ini bergerak di bidang jasa jadi jam istirahat pun juga tetap ada yang jaga. Wong kantor saya yang memperbaiki benda mati saja jam istirahat harus bergantian. Tapi rupanya beda perusahan berbeda pula aturan.

Sebenarnya fisioterapi itu menyenangkan meski deskripsi saya diatas kesannya mengerikan. Tiap kali selesai traksi, punggung saya rasanya ringan dan langkah kakipun terasa melayang. Sayangnya kenikmatan itu hanya berlangsung paling lama 1 jam. Begitu sampai rumah, naik tangga, masuk ke kamar, tetap saja kaki ini masih menderita.

Hingga akhirnya ada teman yang bercerita tentang dokter dan biksu yang berkolaborasi menolong warga Jogja saat gempat dashyat tahun 2006. Tahun itu saya masih di Jakarta. Jadi saat gempa menerjang, banyak warga yang menderita sakit tulang belakang karena tertimpa reruntuhan. Konon kabarnya WHO mengirim dokter Santo, seorang ahli orthopedi yang menerapkan teknik chiropractic untuk mengobati warga yang terluka. Sejak itu, pak dokter ini membuka praktek di Jogja. Saat ini saya sudah tahu bahwa jadwal prakteknya seminggu 4 kali dengan lokasi yang tersebar di 3 tempat, terutama daerah sekitar Jl Monjali, ada yang buka siang dan ada juga yang praktek malam.  Menurut cerita yang sudah pernah kesana, proses pijatnya sangat singkat, sekitar 5 menit dengan biaya Rp 70 ribu per kedatangan. Bagi pasien tertentu, ada yang diminta untuk rutin terapi minimal 30 kali kedatangan. Meski berbiaya tinggi, bagi penderita skoliosis pengobatan dokter Santo konon sangat mujarab. Saya sendiri disarankan untuk kesana karena ibarat ilmu, pak dokter ini sudah setaraf master. Sekali pegang tulang belakang, sudah langsung tahu sakit apa & pengobatannya bagaimana.

Disaat yang bersamaan kala gempa Jogja mendera, dari Thailand datanglah seorang biksu bernama Dalong (semoga saya tidak salah tulis karena sumber penulisan ini juga mengaku lupa detailnya). Sang biksu ini datang jauh-jauh dengan niat mulia untuk menolong warga. Beliau sudah berkeliling dunia membaktikan kemampuannya dalam mengobati pasien hingga akhirnya datang menyambangi kota Jogja. Beliau tidak hanya berpraktek tapi sekaligus mengangkat beberapa murid untuk diajari teknik Tairopractic dengan harapan kelak ada yang tetap meneruskan darma baktinya jika sudah ditinggal kembali ke negeri Gajah Putih. Dari sinilah ajaran Tairopractic ini berkembang karena sang murid akhirnya mengajarkan ilmu tsb kepada yang lain. Beberapa murid perdana bahkan sudah ada yang diundang ke Thailand untuk memperdalam ilmunya sekaligus mendapatkan sertifikat Tairopractic langsung dari sana. Meskipun sudah ahli, pengobatan Tairopractic tidak sepenuhnya komersil. Biksu Dalong mensyaratkan para muridnya untuk menyisihkan waktu dan tenaga dalam kegiatan amal bakti sosial supaya ilmu ini semakin memberikan mafaat bagi sesama manusia. 


Mendapat 2 informasi di saat yang bersamaan, waktu itu saya langsung mencari tahu dimana lokasi praktek dokter Santo tetapi ternyata sudah berpindah pindah sejak 2008. Suami saya bahkan sampai menyempatkan sesiangan bolak balik di sepanjang jalan Tamansiswa mencari rumah nomor 27 yang sudah berganti peruntukan menjadi Salon Kecantikan. Sempat putus asa saya mencari informasi tentang dokter Santo, hingga akhirnya saya memutuskan untuk Tairo saja.


Berdasarkan informasi yang saya terima, para praktisi Tairo di Jogja membuka bakti sosial seminggu 3 kali, yaitu Senin Rabu dan Jumat. Bertempat di daerah Bintaran. Konon Tairopractic ini pada awalnya adalah pengobatan untuk para bhiksu shaolin yang banyak mengeluhkan sakit usai mempraktekkan kungfu. Terapi itu menjadi pengobatan dan pembenahan saraf yang menitikberatkan pada tulang belakang yang merupakan organ penting bagi pusat syaraf manusia.

Usai jam kerja Rabu sore saya datang, diantar suami yang setia menemani kemanapun saya pergi. Niatan awal hanya mau survey lokasi dan nanya-nanya sama orang-orang yang disitu. Eh malah mendapat kabar kalau sore itu akan ada terapi. Saya dipersilahkan masuk ke bagian belakang area. Aula yang sangat luas dengan kaca-kaca ukuran tinggi manusia di satu sisi ruangan. Hiasan Liong dan burung Phoenix yang sangat besar dan indah. Patung Naga meliliti pilar-pilar di sekeliling aula. Di lantai 2 ada ruangan gelap yang hanya diterangi lampu temaram, warna merah mendominasi suasana. Indah, mempesona, tapi agak menyeramkan. Oh, rupanya ini tempat latihan wushu dan barongsai.


www.jogja-jajan.blogspot.co.id-tairo-skoliosis-chiropractice
Kursi berbahan seng yang sederhana dijejer dalam ruangan, sebagian lainnya ditumpuk di pojokan. 2 buah bangku bambu panjang dan sebuah ranjang tinggi dengan lobang seukuran wajah manusia ada di bawah logo putih Hoo Hap Wee. Saya bertanya sambil berbisik pada ibu yang sudah lebih dulu duduk menunggu disamping saya. Berdasar penjelasan ibu ini, ditambah informasi dari sana sini serta hasil pengamatan saya pribadi, pengobatan ini dilayani seusai antrian kedatangan. Semuanya gratisss.. karena tujuannya adalah membantu sesama. Para praktisinya semua berdarah Tionghoa, berumur kisaran 55 hingga 70 tahunan. Dibuka sejak jam 17.00 hingga jam 20.00. Tapi fokusnya adalah mengobati yang sakit, jadi kalau hanya sakit badan karena capek-capek tidak akan dilayani Tairo. Meski gratis,ada syarat yang harus dipenuhi calon pasien. Contohnya saya, saraf kejepit. Jika ingin hasil yang maksimal harus membawa hasil MRI atau rontgent. Syarat lain : tidak sedang haid atau hamil. Tidak mengalami hipertensi. Jika pernah operasi, minimal berjarak 1 tahun sejak operasi. Terapi ini diberikan bagi semua orang tanpa memandang suku ras dan agama.

Sore itu saya urutan ke-4 kedatangan, tapi urutan pertama untuk Tairo. Pasien pertama menderita stroke, oma usia 70-an yang masih nampak cantik. Pasien ke-2 anak kecil umur 6 tahunan, autis. Pasien ke-3 remaja umur 13 tahunan tapi otaknya kena virus saat usia 6 tahun sehingga kemanapun pergi selalu digendong ibunya. Semua praktisi selalu berdoa sesuai keyakinannya masing-masing sebelum mulai mengobati. Pertama-tama kami diminta duduk di dekat praktisinya. Mayoritas adalah tante usia 60 tahun keatas, yang sabar menjelaskan dengan senyum yang tak lepas dari bibir mereka. Tante ini meminta saya untuk rileks dan berdoa, memejamkan mata dan menerima aliran energi yang akan diberikan ke saya. Telunjuk kanannya mencari nadi di pergelangan saya dan telapak tangan kirinya menggenggam bagian tubuh yang sakit dan meditasipun dimulai. Sekitar 15 menit kami berdiam. Setelah itu tante menjelaskan, bahwa ini metode penyembuhan Longevitology.


Mereka mempelajari penyerapan energi alam semesta ke dalam tubuh manusia untuk merubah sel-sel tubuh yang rusak agar berkembang menjadi sel aktif yang sehat sehingga aliran Chi dan peredaran darah menjadi lancar. Kata tante, semuanya harus dilakukan dengan hati yang ikhlas baik si penyembuh maupun penderita. Saat itu saya hanya merasakan hangat saja tanpa menyadari bahwa keesokan harinya tambahan energy ini bakalan membuat tubuh saya seolah mengajak untuk lompat-lompat seharian. 


Terus terang saya tidak begitu mengerti filosofi Longevitology, tapi yang saya tahu, tambahan energi ini sungguh saya rasakan. Suami saya yang sempat dialiri energy karena sakit maag-nya kambuh juga mengatakan bahwa perutnya terasa hangat seperti memakai balsem tapi hangatnya bisa tahan berhari-hari. Semua pasien mendapatkan aliran energy tapi tidak semuanya mengantri Tairo. Menurut tante, terapi Tairo lebih disarankan bagi penderita saraf terjepit, parkinson, sinusitis, vertigo dan stroke meski tidak akan menolak pasien yang datang dengan keluhan sakit pada lengan/lutut/pinggang/leher maupun terkilir. Orang-orang yang baik hatinya ini juga memberikan layanan tusuk jarum di sebuah kamar tertutup. All for free..



www.jogja-jajan.blogspot.co.id-tairo-skoliosis-chiropractice
Sekitar jam 18.30 datanglah beberapa pria yang membawa ranjang lipat dengan lobang seukuran wajah manusia di bagian kepala. Sesudah itu, mereka berdoa dan Tairo pun dimulai. Kala itu pergelangan kaki saya bengkak parah dan tiap berjalan 2 meter harus berhenti dulu menahan sakit. Usai melihat MRI dan interview awal dengan saya, sang praktisi, mulai mengerjakan terapinya. Fokusnya adalah tulang belakang, dipijat dengan teknik tertentu. Tengkurap, miring, duduk, telentang sambil kaki tangan dan lengan saya ditarik diluruskan posisinya. Untunglah meski memakai rok seragam tapi suami saya bersedia pulang mengambilkan celana panjang sebelum terapi dimulai. Tapi tetap saja, sakitnya yang luar biasa serta rasa malu karena dilihat orang seaula membuat air mata saya menetes netes. Kurang lebih 15 menit saya diterapi dan 3 kali ditest jalan kaki. Pak Hari mengatakan bahwa seluruh saraf saya terkunci dan yang dia lakukan sore itu hanya mengurai saraf kusut supaya aliran darah lancar. Jika memaksakan untuk Tairo, saya bisa pingsan katanya. Sebenarnya ingin menimpali sambil bercanda tapi tengsin saya. "Pingsan kesakitan atau pingsan saking senangnya pak?" kata batin saya. Pantang minum es harus saya jalani jika ingin terbebas dari saraf kusut dan setiap minggu sebaiknya saya rutin di-Tairo.

Okelah, malam itu kaki saya masih sakit karena bengkak pada pergelangan. Tapi esok paginya, rasa nyaman yang biasa saya nikmati 1 jam tiap kali usai Fisioterapi di Betesda ternyata bertahan hingga saya datang terapi untuk ke-2 kalinya. Sejauh ini sudah 5 kali saya datang ke Hoo Hap Wee dan kondisi saya semakin membaik saja, meskipun pada pemeriksaan terakhir ditemukan bahwa kaki kiri saya lebih panjang 1 cm daripada kaki kanan. Dahulu sebelum menjalani terapi Tairo, untuk mecapai toilet kantor dari meja kerja, saya perlu 5 kali berhenti menarik nafas menahan sakit dan kesemutan. Sekarang, kadang saya malah menemukan diri saya berlari kecil tanpa saya sadari. Semoga Wisata Terapi Tairo ini menjadi wisata terapi terakhir saya karena sambil di Tairo saya juga sedang dalam proses Wisata Terapi Renang. Kalau terapi yang ini sih sebenarnya aktivitas yang menyenangkan hehehe., Cerita tentang kolam renang yang asik di Jogja saya simpan dulu deh untuk sementara.



Terimakasih Hoo Hap Wee Yogyakarta. Seandainya dekat, ingin rasanya memboyong tetangga dusun saya yang stroke dan skoliosis karena terapi ini selain gratis juga tepat metode penyembuhan. Disebut penyembuhan karena memang tanpa menggunakan obat, jadi kurang pas jika disebut metode pengobatan.

www.jogja-jajan.blogspot.co.id-tairo-skoliosis-chiropractice


Nah.. tak lengkap cerita saya jika belum bercerita tentang makanan yang ada di sekitar Hoo Hap Wee ini. Berjarak 15 meter dari sini ada Murni Bakery, toko roti yang terkenal murah namun lezat. Selain roti dan tart, Murni juga menyediakan makan prasmanan. Ada pula angkringan di depan pagar. Kadang sambil menunggu giliran, kami makan sego kucing dan minum segelas teh hangat untuk menahan lapar.  Di seberang Hoo Hap Wee, ada warung bakso yang tak pernah sepi pengunjung. Baksonya kecil-kecil, lengkap dengan mie kuning dan harganya murah meriah. Cukup membayar 5 ribu saja untuk semangkok mie ayam dan 8 ribu untuk seporsi bakso sapi. 
www.jogja-jajan.blogspot.co.id-tairo-skoliosis-chiropractice

Thursday, November 26, 2015

GALABO, kulineran di Kota Solo




Jogja Jajan kali ini akan bercerita tentang makanan yang berlokasi di luar kota Jogja, tepatnya di kota Surakarta Hadiningrat atau kota Solo di Jawa Tengah.

Sudah beberapa kali ini si denok merengek minta tidur di hotel tiap kali kami melintasi bangunan hotel yang semakin menjamur di Jogja. Entah excitement apa yang ingin dia rasakan, barangkali dia lupa bahwa setiap malam kami sudah tidur di bangunan ex-hotel. Rumah yang kami tempati ini pada awalnya adalah boutique hotel meski hanya berkelas melati, namun sejak beberapa tahun yang lalu sudah kami alih fungsikan menjadi kost putri. Pikir-pikir tak ada salahnya menuruti keinginannya toh kami semua juga rindu untuk escape sejenak dari rutinintas harian.
Akhirnya kami memutuskan untuk alihan turu di kota Solo, sebuah kota yang hanya berjarak 60 kilo jauhnya dari sini. Kami menginap di daerah Purwosari, namanya Grand Sae. Sebagai budget hotel dengan rate 200 ribuan per malam, Grand Sae cukup memuaskan. Selain dekat dengan pusat kota, hotel ini menyediakan indoor pool dengan air arus meski ukuran kolam renangnya tergolong mini. Ada juga kolam untuk anak-anak tapi suhu airnya lebih dingin daripada kolam dewasa. Usai check in, kamipun meluncur mencari makan malam. Galabo mejadi tujuan utama malam minggu ini.

Galabo merupakan singkatan dari Gladag Langen Bogan. Gladag itu adalah nama kawasan di kota Solo. Langen artinya kesayangan atau favorit. Bogan artinya masakan. Jika saya terjemahkan bebas artinya kurang lebih tempat makan favorit yang terletak di daerah Gladag. Menempati ruas jalan Mayor Sunaryo, persis di depan Beteng Trade Centre dan Pusat Grosir Solo. Jika siang hari, ruas jalan ini tetap berfungsi sebagai jalan raya, namun setelah pukul 6 sore akan ditutup dan dijadikan pusat kuliner.
 
Sore itu kami datang sekitar pukul 18.30, namun suasana masih sangat sepi padahal ini malam Minggu. Begitu menginjak jam 19.00 barulah para pengunjung mulai membanjiri tempat ini. Para pedagang berjejer di trotoar menggunakan gerobak yang bentuknya seragam, sedangkan area duduk para pembeli terletak persis di tengah-tengah jalan menggunakan meja dan kursi yang juga seragam coraknya. Jika menghendaki lesehan, tikar akan digelar di seberang, dekat dengan rel kereta api. Sekilas tempat ini mengingatkan saya akan Pasar Semawis di kota Semarang. Hanya saja jenis makanan yang di Semawis kebanyakan olahan daging babi dan mereka tidak menggelar tikar untuk lesehan.

Sebagai wisata kuliner, Galabo menyediakan banyak pilihan makanan. Hampir semuanya makanan khas kota Solo, misal Nasi Liwet, Rica-Rica, Tengkleng, Cabuk Rambak, Pecel Lele, Sate Kambing dan lain sebagainya yang tak dapat saya ingat lagi saking banyaknya. Dengar-dengar besan pak Jokowi juga mempunyai outlet di Galabo, lalu saya tanyakan ke pedagang disana. Sayang sekali masakan yang dijual pak besan presiden masih belum begitu sreg dengan selera saya kali ini jadi kami tidak mencobanya. Menu yang tertera di gerobak pak besan hampir semuanya sambal dan belut, antara lain sambel welut dan sambel wader.
Akhirnya kami memutuskan untuk duduk di bagian tengah ruas jalan, tak jauh dari penyanyi live music. Lagu yang dimainkan mayoritas mellow ala Koes Plus dan Ebiet. Sambil menikmati suara merdu sang pengamen jalanan, kamipun lahap menyantap makanan yang kami pesan. Nasi Liwet khas Solo yang gurih. Rica-rica enthog yang spicy namun nikmat disantap. Cabuk rambak yang mengingatkan jajanan jaman saya masih sekolah disini. Tengkleng kambing yang porsinya sungguh besar sekali. Semua kami nikmati dalam terang lampu jalanan sambil duduk di tengah ruas jalan raya beneran! Tak terbayangkan bagaimana hebohnya para pembeli jika mendadak turun hujan, pasti bubar semua deh keramaian.

Tengkleng yang kami pesan berasal dari gerobak sate kambing Petir seharga 22 ribu sudah termasuk nasi putih. Tengkleng merupakan makanan khas Solo, semacam sop berkuah yang terdiri dari tulang-tulang kambing plus sedikit daging yang melekat pada tulang tersebut. Rasanya pedas dan bau kambingnya sudah tidak tercium lagi.  Konon kabarnya tengkleng adalah makanan rakyat jelata di abad 19. Kala itu rakyat hanya mendapat jatah sisa karena bagian yang terbaik dipersembahkan bagi para bangsawan. Hebatnya, kaum jelata ini mampu meracik bahan sisa tadi dengan bumbu yang pas sehingga terciptalah tengkleng yang kita kenal saat ini. Berhubung tangan kami belepotan, tengkleng ini tak sempat kami abadikan.


Makanan lain yang kami pesan adalah Rica-Rica Enthog. Enthog itu serupa itik manila. Seporsi hanya 11 ribu saja berisi 4 potong paha enthog yang berdaging tebal. Bumbu rica-nya berbeda dengan bumbu rica masakan Jogja. Yang bisa saya sampaikan cuma rica Enthog Galabo ini rasanya enak sekali. Harganya pun tergolong murah mengingat porsinya yang lumayan besar.





Tak lengkap jika tidak memesan Nasi Liwet khas Solo. Menu ini kami pesan dari gerobaknya Yu Temu. Disajikan dalam pincuk atau daun pisang. Kualitas daun yang dipakai cukup bagus, hijau mengkilat, tebal dan bersih. Seporsi nasi liwet dan kerupuk karak/gendar yang dihidangkan bersama sayap ayam kampung dan semangkok sayur dibanderol dengan harga 13 ribu rupiah saja. Jika ingin nasi liwet dengan ayam suwiran, maka cukup membayar 8 ribu rupiah. Semua masakan yang kami cicipi hampir semuanya berbeda rasanya dengan citarasa Jogja, bahkan rasa nasi gurihnya juga berbeda. Nasi liwet yang gurih ini masih diberi sesendok areh/santan kental yang semakin menambah gurih. Beda halnya dengan sayur labu siam yang menjadi teman makan nasi liwet. Jika dimakan terpisah, kuah sayurnya malah minim rasa. Barangkali memang disengaja untuk mengimbangi rasa gurih dari areh dan nasinya. Areh yang menemani nasi liwet ini mempunyai rasa yang berbeda dari rasa areh yang biasa saya makan di gudeg Jogja. Sekilas ada rasa gurih seperti putih telur. Bisa jadi ini adalah putih telur yang dikocok kemudian dimasak bersama santan kental dan garam.


Di tempat ini pula kami memesan Cabuk Rambak sebagai snack. Sebenarnya saya berharap bisa menemukan menu Brambang Asem tapi sepertinya makanan itu sudah semakin langka. Cabuk Rambak yang dulu pernah menjadi jajanan saya jaman masih sekolah pada hakekatnya dibuat dari gendar (calon kerupuk yang belum dijemur) yang diiris tipis kemudian disiran saos wijen dan dimakan dengan krupuk karak. Ada juga yang mengganti gendar dengan ketupat yang diris tipis. Keunikan makan cabuk rambak adalah cara makannya tidak menggunakan garpu atau sendok, melainkan memakai lidi yang ditusukkan pada salah satu irisan gendar/ketupat. Demi kepraktisan, pemakaian lidi sudah digantikan oleh tusuk gigi. Harganya sekarang sudah 4 ribu rupiah per porsi, masih cukup murah untuk ukuran jaman sekarang apalagi di daerah wisata kuliner.


Andai saja di Jogja ada tempat seperti ini tentu akan semakin menarik wisatawan untuk datang berkunjung. Sebenarnya ada, tapi biasanya hanya insidentil semisal di kampung Ketandan setelah hari raya Cap Go Meh atau di kampung Kauman selama bulan ramadhan. Banyak jenis makanan di Jogja yang sebenarnya jika dikemas dan lokasinya dikelola dengan baik akan bisa tumbuh menjadi icon wisata baru. Semoga harapan saya ini lekas terwujud sehingga kami tidak perlu jauh-jauh pergi ke Galabo saat kangen jajanan. Tapi buat saya, sungguh… Galabo memang ngangeni...